29 WAYS TO STAY CREATIVE from TO-FU on Vimeo.
Selasa, Januari 31, 2012
Jumat, Januari 13, 2012
Resolusyen Air Soda
Karena semangat kita seperti air soda, kita membutuhkan petuah Mario teguh.
Mumpung masih anget, menindak lanjuti resolusyen (bacanya resolution). Aku ingin meralatnya dengan tidak lagi mengetik kata resolusi. Sebab kata Goenawan Mohamad yang dikutip oleh Mujix yang jago bikin komix, bahwa kata resolusi adalah ‘pengindonesiaan yang malas’ dari kata resolution yang berarti pemecahan, atau Goenawan Mohamad lebih suka menyebutnya ketetapan hati, kebulatan tekat untuk mengambil sikap, melakukan tindakan, serta menunjukkan perilaku baru yang berbeda dengan yang sudah-sudah . Mujix juga mengutip dari Ana Subekti. Dan Tempur Supinsil mengutipnya dari Mujix. Paham? Pokoknya Gitu Deh.
Ngomomg-ngomong soal resolusi, maksudku ‘kebulatan tekad’ yang sudah diikrarkan oleh orang-orang ketika malam tahun baru kemarin, aku yakin banyak sekali yang sudah berguguran. Atau sudah mulai mengkianati janji yang mungkin diucapkan di bawah cahaya kembang api atau mungkin sambil sesenggukan di atas sajadah.
Kenapa? Tanyakan saja pada dokter gigi. Mungkin dokter gigi bisa menjelaskan betapa absurdnya cara kerja organ tubuh yang namanya hati. Kemarin dengan sungguh-sungguh berjanji, sekarang sudah mulai mengoreksi bahwa kemarin cuma bo’ong –bo’ongan kok, Tuhan, aku gak serius kok. Wong aku janjinya sambil mabok. Sambil pup, sambil kaget denger petasan atau sambil dicemberutin istri :D.
Sebenernya sih gak mesti tahun baru untuk membuat ‘kebulatan tekad’. Kapanpun bisa. Toh tahun baru cuma sekedar fase di mana matahari kembali ke posisi yang sama setiap tahunnya. Dan kebetulan tahun baru selalu jatuh di tanggal 1 Januari. Coba kalau tahun baru jatuh tanggal 30 Pebruari? Betapa remphongnya para dokter gigi.
Momentum! Oh tidak. Apaaaaaaaaaaaaaaaaa? Jreeeng! Aku segera ke sana! (itu adegan sinetron)
Eh iya, kita perlu momentum untuk berjanji atau membulatkan tekad. Bisa tahun baru, lebaran, ulang tahun, ulang tahun anak, ulang tahun perkawinan atau kapanpun saja yang bisa di ingat. Jadi, bukan tahun barunya yang huebat tapi momentumnya.
Tetapi, semangat yang menggebu-gebu di awal, perlahan-lahan jadi lemah syahwat. Semangat menurun. Kinerja terjun bebas, dan peduli setan dengan resolusyen-resylusyen palsu ituh! (pake h biar terkesan alay).
Kemudian kita membutuhkan Mario Teguh, atau siapapun saja yang bisa menggenjot semangat yang sudah meneopuse tadi. Beliau hadir untuk memberantas para manusia-manusia labil, galau, salah arah, malas, dan uring-uringan .
Selain Pak Mario yang super , ada juga Mr. Tung Desem Waringin, Andre Wongso, dan beberapa lagi yang berprofesi seperti itu. Mengajak orang untuk bersemangat, bangkit dari kegalauan, berani bermimpi dan kemudian mewujudkan mimpi itu. Orang-orang pun berbondong-bondong mendengar tausiahnya, menyukai fenpejnya (baca : fan page), memfollow twiternya, membeli bukunya, menyimak acaranya, manggut-manggut, ikut teriak “super!” tapi tidak paham. Setelah mendapat suntikan motivasi dari mereka, orang-orangpun bersemangat. Seolah-olah hujan badai, lautan api, berondongan peluru bahkan serangan monster jaha, kecil saja bagi galauer yang baru saja menelan pil super dari pak Mario dan temen-temennya.
Tapi, itulah tadi. Semangat kita hanya seperti air soda. Kita menjadi keren setelah mendapat guncangan-guncangan. Jwwwwuooooooooooos! Setelah itu lemah, lunglai, lemas, lesu, letih, dan loyo. Yang tadinya berasa menggigit, kemudian cuma jadi berasa air gula. Berasa air sirup, dan berasa air kola. Padahal kata dokter gigi, air soda bisa menyebabkan oesteoporosis. Lebih bagus susu. Tapi sayang, susu tidak ‘sebergairah’ air soda. Penampilannya sederhana.Dan ketika botol dibuka, tidak ada reaksi. Diam tak bergerak.
Bagaimanapun juga, kita tetap membutuhkan orang-orang seperti Mario Teguh, untuk mengingatkan kita dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Walaupun kita tidak menyukai air soda. Dan seperti pesan dokter gigi, banyak-banyak minum susu, dan cuci kaki sebelum tidur karena mungkin tadi pagi kita menginjak kotoran ayam.
Sudah dulu ya postingan kali ini, aku harus segera ke warung sebelah mencari soda susu. Dan untuk Pak Mario Teguh, sukses dan Salam Super!
Tempur Supinsil Ganteng (spesialis note gak nyambung)
Kamis, Januari 05, 2012
Alvin Ho dan Farah Quinn yang mumumumumu…

Seandainya saja tidak ada sekolah, aku pasti tidak akan punya masalah. Aku akan menggali lubang setiap hari. Aku akan bermain lempar-tangkap bola dengan GungGung.
Aku akan menonton acara memasak. Aku akan mengamati berbagai hal. Semuanya pasti fantastis!
Kalimat diatas aku kutip dari novel berjudul Alvin Ho. Di tulis oleh Lenore Look dan di beri ilustrasi oleh LeUyen Pham .
Novel itu aku beli kira-kira bulan puasa sebelum puasa kemarin. Disitu diceritakan tentang seorang anak yang alergi pada sekolah.
Tapi aku gak akan cerita tentang novel itu. Aku hanya ingin menarik dua hal dari kalimat paragraph pertama di atas.
Pertama tentang sekolah, betapa sekolah sudah menjadi sedemikian horor bagi anak-anak. Disuguhi materi yang buwanyak. Disuruh bawa buku buwanyak . PR buwanyak Disuruh menghapal buwanyak. Bayarnya juga buwanyak.
Disamping horor-- dalam bagian ini, kupikir level film Suzana gak ada apa-apanya. Sekolah juga sudah menjadi seperti pabrik. Disana para murid dikondisikan untuk menjadi seperti maunya guru. Dan Ide konyol yang dinamakan kurikulum. Nanti lulusannya juga seperti itu. Yang tidak sesuai dengan standar sekolah dan guru-guru, di reject. Terus dianggap bodoh. Terus dicap idiot. Terus dicap lemah otak. Dan sebagainya-dan sebagainya. Dalam posisi ini, aku bertanya apakah orang-orang yang menyusun aturan konyol yang mereka sebut kurikulum atau siapapun saja yang punya kewenangan didalam kementerian pendidikan berpikir bahwa setiap anak adalah berbeda? Bahwa berbeda pula cara penanganannya? Anak-anak bukan potongan besi, karet, atau apapun saja yang kalau dibentuk dengan prosedur, aturan, komposisi dan ukuran yang sama akan menjadi barang yang sama?
Oke, sampai pada paragraph di atas masihkah kalian menitipkan anaknya ke sekolah-sekolah yang menjajah kreatifitasnya? Masihkah kalian mengharapkan anak kalian mendapat rangking satu dikelasnya?
Kalau hari ini masih ada guru yang memberi peringkat satu, dua, tiga, atau seterusnya, kupikir sudah saatnya ijazahnya perlu diraba dan diterawang, jangan-jangan palsu, atau segera ke laut. Kenapa? Karena dengan kapasitasnya itu, dia hanya bisa menghasilkan satu, dua atau tiga anak pintar dikelasnya. Dan sisanya mendapat stempel ‘bodoh ‘ di jidat mereka. Kupikir ini sebuah tragedi nasional.
Kedua, acara memasak. Inilah acara paling mumumumumumu… yang pernah ditayangkan di televisi. Daripada sinetron yang jelas-jelas tanpa patron atau berita yang isinya seolah-olah di skenariokan beritanya.
Aku pernah curiga kalau tiap tiga bulan sekali petinggi televisi berkumpul untuk membicarakan isu yang bisa dijual tiga bulan ke depan. Kemudian disimpulkan berita bulan ini kasus ini, bulan depan ini, bulan depannya lagi itu. Infotainmen juga seperti itu.
Tapi kalau acara memasak, ada segudang menu yang bisa ditampilkan. Karena Indonesia, surganya kuliner endang bambang gulindang, maknyus dan top markotop.
Kata-kata tadi sering diucapkan oleh bapak Bondan Winarno, seorang lelaki yang mempunyai pekerjaan paling keren sedunia. Memprovokasi umat untuk mencoba makanan yang beliau makan ditelevisi. Apapun yang dimakan, entah itu nasi jagung, jus mengkudu, atau bahkan makanan eropa, beliau bisa mendekripsikan rasanya sedemikian rupa sehingga kita terprovokasi untuk mencobanya.
Selain pak Bondan, kita juga mengenal Bara Pattiradjawane, William Wongso, Ibu Sisca Suwitomo, yang bertahun-tahun mengasuh acara memasak di Indosiar, Rudi Choirudin, dan beberapa lagi yang tidak aku ingat. Serta satu lagi yang paling fresh, Farah Quinn.
Tapi aku rasa kalau aku ngomongin Farah Quinn, kalian pasti menuduhku tidak adil. Karena dari nama-nama chef dan presenter acara memasak yang saya sebutkan tadi, Farah Quinnlah yang paling unyu.
Kalau pak Bondan bilang maknyus untuk menyebutkan betapa menggergajinya masakan itu dilidahnya, Farah Quinn akan bilang yummy. Farah Quinn mempunyai satu acara di Trans TV yaitu Ala Chef. Dimana dia akan berkeliling Indonesia untuk memadukan resep Eropa dengan resep lokal. Memasak di alam terbuka (catet : alam terbuka! Bukan baju terbuka. Jangan ngeres deh!) ditemani penduduk setempat, kemudian dimakan rame-rame menu yang dimasak tadi. Rasanya? Tanyalah penduduk yang pernah diajak makan Farah Quinn.
Oke, aku selalu ingin banyak libur untuk menonton acara memasak. Siapapun presenternya.
Dear diary, ehm..
Aku menyebut tulisan ini jurnal. Bukan diaryl. Karena kalau diary, pasti akan ada bunga-bunga merah muda dan ada kolase poster personil s**sh di sana sini. Dan aku yakin mata kalian akan diare kalo aku menulis diary pink. Tapi ya sudahlah, kalopun postingan kali ini gak ada manfaatnya buat kalian, setidaknya ada manfaat untuk mulai mengisi blogku di awal tahun ini.
Tempur Supinsil,
Lelaki bodoh penggemar Farah Quinn, ups, acara memasak!
Senin, Januari 02, 2012
Sabtu, Desember 31, 2011
Catatan Akhir tahunnya Tempur Supinsil
Sebelum membaca postingan di bawah ini, mari berdoa’a semoga di tahun yang baru ini pinsiltempur selalu diberi kelimpahan dan keberkahan dimanapun berada
Kalau seumpama Pinsiltempur itu superhero, pasti ia memiliki alter ego, seperti Clark Kent menjelma Superman, Bruce Wayne untuk Batman, Peter Parker yang jadi Spiderman.
Mereka bisa saja wartawan, pewaris tunggal sebuah kerajaan bisnis, professor, mahasiswa, atau tukang cetak culun sepertiku.
Oke, lupakan tentang super hero, karena aku bukan orang super apalagi hero, bahkan untuk versi cedalnyapun aku belum memenuhi syarat. Aku kurang supel, apalagi rajin ngomong helo.
Beok tahun baru. Banyak orang yang mempunyai resolusi untuk tahun depan. Berharap lebih baik, lebih sukses, lebih dekat Tuhan, lebih manis, disayang keluarga, dan…dan… lain-lain. Akupun demikian. Tapi nanti dulu aku ceritanya.
Tahun 2011 ini, merupakan tahun yang cukup menggergaji. Aku menemukan siapa diriku . yeah, meskipun masih terserak, masih berupa kepingan-kepingan puzzle yang perlu disusun ulang untuk bisa disebut utuh.
Menemukan kegairahan-kegairahan baru yang memesona. Menemukan batu pijakan baru yang darinya aku harus melompat tinggi-tinggi.
Entah kenapa, beberapa hari yang lalu ketika aku sholat, aku membaca surat Al-‘Ashr. Surat pendek yang menohok aku mentah-mentah. Betapa aku sudah melewatkan begitu banyak waktu berharga yang Allah berikan.
Aku ingat sebuah postingan seorang teman tentang seni melipat kertas, menggulung, meronce, mencoret-coret-coret dan seterusnya dan seterusnya dan seterusnya (*bukan salah ketik, emang sengaja) ada istilah kerennya. Apa? Pokoknya ada. Tapi seni melipat waktu, menggulung, mencoret-coret dan membiarkannya begitu saja, istilahnya apa? Sia-sia. Ya kita semua sudah menyia-nyiakan waktu yang Allah sendiri bersumpah dengan namanya.
“Demi masa, sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam keadaan merugi (celaka), kecuali orang-orang yang beriman, beramal shalih, saling menasehati dalam kebenaran, dan saling menasehati dalam kesabaran.” (Al ‘Ashr: 1-3)
Tiga orang yang memperoleh pengecualian bahwa dirinya tidak merugi adalah, yang beriman, beramal shalih, saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran.
Rasa-rasanya gak ada satupun predikat diatas yang aku sandang.
Pertama, beriman. Beriman bukan sekedar percaya. Tetapi lebih dari itu. Atau dalam bahasa yang sederhana, beriman itu berarti tanggung jawab. Apakah aku sudah bertanggung jawab dengan pilihan-pilihanku terhadap ajaran nabi-Nya? Aku rasa jauh panggang dari api.
Kedua, beramal shalih, atau dalam bahasa sederhanaku, menjalankan setiap desahan nafas dengan memperhatikan kemanfaatan bagi sesama. Menyakiti hati orang gak? Orang lain tersinggung gak dengan ucapan, sikap dan tingkah laku kita? Apakah aku sudah seperti itu? Jauh.
Ketiga, saling menasihati dalam kebenaran dan sabar. Bukan sekedar bisa ngomong tentang kebenaran dan sabar, tetapi lebih dari itu,menjalankannya dalam kehidupan sehari-hari. Member contoh, bahasa sederhananya. Sudahkah? Ngimpi………..
Aku bukan ahli tafsir, hanya lelaki bodoh yang digulung oleh waktu. Jadi mohon dimaafkan kalo penafsiran tentang ayat-ayat tadi ngawur blas.
Hidup memang berat, seberat hutang, sekejam ibu kota dan kalau sudah begini, yang pengen aku lakukan adalah lari dari kenyataan dengan masuk laci (*baca : mesin waktu—aku selalu membayangkan kalo laci di kantor adalah mesin waktunya dora emon) kabur ke masa-masa kecilku di kampung. Lalu terdampar di suatu pagi subuh yang dingin.
Pada situasi seperti ini, biasanya Ayah Ibuku serta nenekku sudah bangun sejak subuh, Nenekku menjerang air untuk menyeduh kopi. Jam lima pagi Ayahku menyetel radio BBC London, yang diawali dengan suara jam big ben dilanjutkan dengan music barok yang khas bunyinya (tet, titet, tetet-tetet titet begitu bunyinya, *untuk lebih mendramatisir adegan ini, silakan googling dan dengarkan lagu tersebut). Ibuku menumbuk rendaman jagung untuk dijadikan nasi makan siang. Aku bangun dengan malas-malasan setelah setengah jam pertama siaran berita BBC London berakhir dan memasuki pelajaran bahasa Inggris. Itu berarti sudah jam setengah enam pagi. Dan ibuku sudah capek menyuruhku bangun untuk shalat. Setelah bangun dan shalat, aku biasanya langsung duduk di depan perapian untuk membakar singkong atau pisang sambil minum kopi.
Itulah tujuan “melarikan diri” yang sering aku bayangkan. Aku memang bodoh. Bahkan yang seharusnya tulisan ini sudah aku posting beberapa hari yang lalu, tetapi samapai pada saat kembang api dan terompet serta petasan di luar sana bersahut-sahutan, tulisan ini masih belum jadi.
Kembali ke soal resolusi, aku tidak terbiasa menuliskan daftar panjang apa yang mesti aku capai tahun depan. Karena aku lelaki yang paling tidak konsisten di muka bumi. Jadi kalau ngomongin resolusi, mungkin aku hanya kepingin konsisten terhadap semua rencana yang telah aku susun. Segera menyelesaikan proyek rahasia yang mangkrak. Bisa memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya, dikabulkannya do’a-do’a , mengurangi ketengilan untuk, berubah menjadi lebih dewasa dan diberi kelimpahan sehat dan rejeki untuk seluruh keluarga.
Satu lagi, semoga diberi kekuatan untuk mengawal Gibran menjadi sesuai kemauan Allah. Membiarkannya mengeksplor segala hal-hal baru yang ditemuinya, lebih banyak punya waktu untuknya, dan mengajak keluarga Indonesia siapapun saja untuk mendukung terwujudnya Indonesia yang kuat melalui keluarga. Berlebihan? Aku kira tidak. Mungkin lebih berarti orang bodoh sepertiku yang bertindak sekecil apapun daripada orang pintar yang diam saja. Apalagi orang bodoh yang pasif. Ke laut aja deh.
Sepertinya aku harus segera menyelesaikan tulisan ini, sebelum jam 24.00, kalau tidak, ini akan menjadi tulisan paling lama yang pernah aku bikin.
=============================
31 des 2011
Lelaki Bodoh yang selalu gak nyambung(tulisan di atas juga gak nyambung, biarin)
Selamat Tahun Baru.


