Rabu, November 12, 2014

Musim hujan, musim jatuh cinta


Perempuan harus memahami laki-laki sehingga membolehkan laki-laki poligami. Laki-laki harus memahami perempuan sehingga dia tidak melakukan poligami” --------Pidi Baiq

Cuma mau bilang, postingan kemarin aku cerita tentang November yang belum hujan, kali ini aku mau cerita tentang arti November bagiku. November artinya tambah tua. Tambah satu garis keriput dan berkurangnya jatah eksis di dunia fana ini.

Aku pernah bikin kalender yang isinya banyak tanggal merah, dan akhir tahun gini aku juga pengen bikin lagi. Nanti akan aku beri keterangan tentang libur apa saja itu. Kalau orang bule bikin libur musim dingin dan musim panas, aku pengen bikin ada libur musim hujan, libur musim kemarau, libur musim durian, libur musim rambutan, libur musim sawo, libur musim mangga, libur musim kawin juga libur musim jatuh cinta.Selain libur-libur resmi yang sudah ditetapkan pemerintah.

Eh, ngomong-ngomong jatuh cinta, perasaan aku belum pernah memposting tulisan tentang cinta secara khusus. Pengen nulis, ah. Mumpung lagi musim jatuh cinta.
Cinta, sebuah kata yang pendek tapi sudah pernah ditafsirkan oleh sekitar tiga milyar tujuh ratus tujuh puluh tiga juta enam ratus dua puluh satu ribu empat ratus lima puluh tiga penduduk dunia. Termasuk aku. Sisanya masa bodoh. Sisanya lagi masa sih bodoh. Sisanya lagi bodoh sih, masa? Terus ada sekitar dua milyar puisi cinta yang tercipta, termasuk punya kamu. Terus ada ratusan ribu grup band yang pernah nyanyi lagu cinta. Termasuk Kangen Band, termasuk Jeketi fortieij yang unyu-unyu ituh. Termasuk Raisa, termasuk Citra Scholastika.

Menurutku sih, menurutku lho ya, ada beberapa tahapan cinta. Pokoknya cekdisout deh kamunya.

Jatuh hati
Ini perasaan awal yang tumbuh karena melihat keindahan yang tampak diseberang sana. Bisanya sih lawan jenis. Kalimat ‘jatuh cinta pada pandangan pertama’ menurutku sih gak mungkin. Bohong. Itu Cuma jatuh hati. Rata-rata kita mengalami gejala ini lebih sering. Perasaan kangen karena lihat mata, hidung dan bibir yang indah menyatu, atau lihat senyum yang membuat kita gak mampu berdiri sempurna atau lihat mata yang bikin jantung ini berdetak beberapa kali lebih kencang. Itulah kekuatan pesona yang tertangkap oleh indera kita. Bahkan ketika bilang ‘gak ngerti deh, rasanya gw mulai tertarik deh sama dia’, ‘anjret, idungnya bagus banget’, atau ‘matanya, matanya kok bisa indah kek gitu sih, boleh di bawa pulang gak?’ itu artinya hati kamu tahu lebih banyak, tapi otak kamu tidak cukup perbendaharaan kata untuk menjelaskan fenomena itu. Itulah jatuh hati, awal ketertarikan kamu terhadap lawan jenis yang serta merta kamu sebut sebagi jatuh cinta. Aku sering mengalami hal ini. Kamu juga kan? Yekan, yekan?

Jatuh cinta
Inilah level kedua yang mulai menggoyangkan seluruh indera. Pada tahap ini kamu sudah mulai terperangkap pada kuku-kuku tajamnya yang berkuteks indah. Segala sanjung puji, perhatian, dan kasih sayang, jalan beriring dengan cemburu, curiga dan katakutan akan kehilangan. Pada level ini, berhamburan kata ‘tapi’. ‘item sih, tapi perhatian banget’, atau ‘pesek sih, tapi ngegemesin’, ‘galak sih, tapi gimana lagi, aku takut kehilangan’. Ada lebih dari seribu pembelaan, juga ada lebih dari seribu penghakiman.

Membangun cinta
Inilah level paling emejing dalam dunia percintaan. Gini, aku pernah menyandang status paling dibully nomer dua di Indonesia. Ya, aku pernah jomblo. Tapi high quality. Kamu pernah denger kalimat ‘jodoh ditangan Tuhan’? kamu tahu siapa yang di tangan Tuhan itu? Itu aku. Becanda deng.
Aku Cuma pengen cerita kalau banyak sekali pernikahan yang awalnya dibangun tanpa cinta terlebih dulu. Tiba-tiba entah bagaimana caranya, eh, tunggu dulu, kalimat ‘entah bagaimana caranya’ adalah cara kerja takdir. Disana ada kesulitan, ada keajaiban, ada  dukungan semesta yang membuat segala sesuatunya menjadi mudah. Ya, entah bagaimana caranya, tiba-tiba terjadi pernikahan. Pernikahan yang tanpa jatuh hati, tanpa jatuh cinta.

Tapi disanalah lahan untuk membangun cinta terhampar. Dengan pondasi janji suci dengan Allah. Menikah dulu baru bisa mengenal, menikah dulu baru pacaran. Menikah dulu baru jatuh hati. Menikah dulu baru jatuh cinta. Bahkan momen tambah keriput, muncul kerut halus, tanda-tanda penuaan adalah elemen-elemen penguat cinta.

Bagiku, kerut halus dan tanda-tanda penuaan yang muncul di wajah istriku, mampu menaikkan level cintaku padanya beberapa strip. Cemburu dan curiga adalah dua hal yang hampir-hampir tidak kami amalkan. Buat apa coba, buat apa kok coba-coba.

Oke, itu beberapa pendapatku. Diluar masih gerimis. Kopiku sudah habis, anak istri sudah tidur. Murottal di komputer sudah sampai Al-Mulk.  Biar, biar adem. Adem di luar adem di dalam. Empat buah buku yang dibelikan istriku sebagai hadiah ulang tahun baru dibaca satu, masih tiga lagi. Sekarang sedang minum air putih. Biar bolak-balik kamar mandi. Sebentar lagi tidur biar Allah gak sia-sia bikin malem.

Selamat buat yang sedang jatuh hati, yang sedang jatuh cinta dan yang membangun cinta.

Beidewei, quote diatas itu buat apa? Eh iya, itu cuma ngingetin bahwa terkadang kita bermain api. Nah quote dia atas bisa kita pakai, kita amalkan. Jadi, kalo gak quote, tinggal lambaikan tangan ke kamera.

---Tempur Supinsil---
Berkali-kali jatuh hati, dua kali jatuh cinta, sedang membangun cinta



Senin, November 10, 2014

Menunggu November Rain


Hari sudah sore, Tangerang sebentar lagi hujan. Sudah beberapa bulan ini, aku gak pernah ngerasain hujan turun sore-sore gini. Hujan senja yang selalu aku terjemahin sebagai melankoli ini, adalah suasana yang paling kurindukan setelah ibu.

Aku sedang menunggu SMS dari seseorang yang sebenarnya tidak perlu aku tunggu. Tapi entah kenapa aku jadi aneh ketika SMS itu gak kunjung mampir di hapeku. Aneh memang, padahal SMS itu terkadang cuma sekedar huruf Y, yang berarti ya, atau oke. Tapi hatiku senang. Aku kadang perlu memancingnya dengan pura-pura nanya sesuatu yang sebenarnya aku gak pengen tahu. Kemudian dijawab. Jawaban itulah yang kadang aku tunggu-tunggu.

Ada episode yang menurutku sangat menggergaji dibulan-bulan belakangan ini. Aku mulai latihan menyetir. Program dari pabrik tempatku bekerja. Aku bekerja di pabrik jus, itu sudah kuceritakan dulu. Sebuah aktifitas yang osem. Berlatih mengendalikan kotak besi seberat paling tidak 2000 kilogram berjalan sesuai aturan. Aku yang payah dalam konsep ruang dan koordinasi antara tangan, kaki dan otak yang lumayan mengkhawatirkan, menemui beberapa masalah dalam belajar. Perintah antara injek kopling, masukin gigi, angkat kopling, injek gas, bagiku seperti horror. Ketuker-tuker. Jalan, mati. Jalan lagi, mati lagi. Maju mundur cantik, maju mundur gubrak. Roda belakang menginjak ember yang dibawa dari pabrik sebagi pembatas latihan parkir. Besoknya si Herman terpaksa mencoba membetulkan ember itu ke posisi seperti semula. Untungnya mentor menyetir ini orangnya sabar. Tidak seperti Nyonya Puff, berkali kali dirawat di rumah sakit gegara ngajarin Spongebob menyetir. Hanya saja, mungkin setelah melatihku, stok sabarnya anjlok mendekati strip merah. Sambil bunyi rilud, rilud. Kek di gem-gem gitu.

Sabar, kata pak Damardjati almarhum, itu tidak ada batasnya, demikian juga ikhlas. Tapi sepertinya beliau akan berkata lain kalau beliau melatihku menyetir. Sabar itu memang tidak ada batasnya, tapi perlu di rilud. Iya heu-euh. Perlu dibasuh, perlu dilatih dengan tekun. Perlu pengalaman bertahun-tahun.

Hari-hari belakangan ini aku juga sibuk. Sibuk pengaman. Sibuk santai kata Pidi Baiq. Menghabiskan waktu dengan bersenang-senang yang orang sebut sebagai ; bekerja. Belajar hal-hal baru yang betul-betul menghabiskan waktu. Sehingga frasa ‘gak kerasa ya, waktu cepet banget’ adalah sebuah pembelaan yang terlambat. ‘Gak kerasa’ sebenarnya penuh rasa. Rasa lelah, bosen, khawatir, harap-harap cemas, sayang, peduli dan semacamnya.

Mungkin aku terlalu sibuk menghabiskan waktu dan berpikir semuanya baik-baik saja. Sehingga lupa mengecek matahari telat apa gak? Malam terlalu panjangkah? Oh, itu tugas malaikat. Bukan-bukan itu, maksudku gini ; aku sering lupa pada tugas-tugasku sendiri. Kalo bahasanya praktisi MLM, aku masih terjebak zona nyaman. Perbaikan-perbaikan yang signifikan gak terlalu kelihatan progresnya. Anjreet bahasanya sok inggris amat seh. Sedangkan uban semakin banyak. Artinya, dalam beberapa hal, aku masih melakukan hal sia-sia. Seperti menyalakan lampu motor siang hari, pake kaos kaki setelah pake sepatu atau nonton film donlotan berulang-ulang.

Ngomong-ngomong soal uban, aku sebenarnya tidak terlalu merisaukannya. Ia adalah bagian dari perjalanan yang harus aku nikmati. Tapi entah kenapa, belakangan ini aku lebih menyukai potongan rambut plontos. Kek Andi Noya, kek Dedi Corbuzier. Persoalan belum selesai, untuk menjaga kondisi rambut seperti itu, biayanya tidak sedikit. Taruhlah sekali potong rambut antara sepuluh ribu sampai lima belas ribu rupiah, berapa biaya yang diperlukan kalau setiap dua hari sekali harus dipotong dan dilicinkan. Kabar ‘buruknya’, ide untuk memelontoskan rambut ini, ternyata membuat kecanduan. Panjang dikit pengen dipotong, panjang dikit pengen dipotong, panj.. udah dua kali aja. Ya gitu deh, karena adem, semriwing dan keren. Bukan hanya itu deng. Lelaki yang berani botak itu lelaki pemberani. Gak percaya? Cobalah tantang suamimu atau pacarmu untuk pelontosin rambut. Oya sebab kenapa aku beruban? Ini tidak lebih karena salah mantra. 
Ketika mau berubah jadi ranger merah, harusnya aku teriak Berubah!, tapi aku malah teriak Beruban! Jadilah aku beruban. Becanda deng.

Episode bulan-bulan ini juga bukan cuma diwarnai dengan nyetir dan uban, tapi terkaparnya aku oleh serangan bakteri salmonella sialan. Aku sempat dirawat selama tiga hari gegara kena gejala tipus. Istirahat total dirawat suster-suster cantik. Beneran, disini teori tentang cantik itu relatif, berlaku dengan jujur. Dari beberapa orang suster, semuanya cantik. Jadi gini, oke, cantik itu relatif, tapi apapun definisi cantik menurut kamu, kamu pasti akan bilang kalo mereka itu cantik. Sungguh.

Baiklah kita beralih ke tema lain. Beberapa minggu yang lalu, bapak mertuaku meninggal. Setelah sakit beberapa hari. Tidak begitu banyak kenangan tentangnya di memoriku karena aku jarang di rumah. Beliau pendiam, sedangkan aku punya kesulitan untuk memulai segala sesuatu dengan baik. Begitu banyak miskomunikasi antara kami. Tak pernah cerita, tak pernah ngobrol. Beliau kikuk, aku kikuk. Pada saat-saat terakhir pun aku belum sempat minta maaf, karena beliau semacam koma gitu. Tapi aku yakin kami saling memaafkan. Semoga beliau tenang di sana.

Aktifitas di pabrik juga berlaku seperti biasa. Melakukan pekerjaan rutin atau menyelesiakan hal-hal insidentil aku lalui dengan baik. Berangkat dengan Migu—oya Migu itu nama sepeda motorku yang berisiknya minta duit, eh ampun. Motor paling keren sepabrik. Bukan pabrik motor, tapi pabrik jus. Paling irit BBM, paling sering mogok, paling banyak yang nawar, juga motor dengan pemilik paling keren versi ibu-ibu komplek. Pernah nabrak mobil, spartboard depan hancur, pernah jatuh gegara kesalahan perhitungan dalam waktu sepersekian detik. Aku tahu didepan ada lubang di jalanan, tapi aku terlambat menyadari sehingga aku terjatuh dan lupa jalan pulang, aku butiran debu. Maksudku aku jatuh dan kelingking kiriku berdarah. Lututku memar, dan wajahku ganteng. Berangkat pagi-pagi setelah rebut dengan anak masalah mandi. Ngawasin gosok gigi, pake baju sekolah, dan kadang-kadang nganterin. Terlambat masuk gegara mogok, terlambat pulang gegara browsing dulu. Nengokin fesbuk, tewiter, atau sekedar cari inspirasi

Habis maghrib atau isya, belajar hal-hal baru. Desain grafis, autocad, atau mulai serius nulis lagi. Tiap malem aku harus belajar. Kalau tidak istriku tidak suka. Jadi aku berasa anak SD lagi. Jangan harap main game atau nonton film donlotan. Kecuali malam minggu. Tapi kalo aku bawa serial terbaru Hunter X Hunter, istriku sumringah dan boleh nonton.

Sebagai peminum kopi yang taat, sebelum belajar biasanya aku menyeduh kopi terlebih dahulu. Dengan racikan yang bikin istri mengomel, karena hamper setengah cangkir sendiri kopinya, dengan gula sedikit. Menyisakan endapan yang cukup tinggi di dasar cangkir sewaktu dicuci. Setelah minum kopi kemudian memasuki kondisi alfa bukan mart. Alias tertidur dengan ganteng. Entahlah mungkin ini sebuah anomaly. Ketika orang lain sebelum tidur minum kopi jadi terjaga sepanjang malam, setelah minum kopi aku malah seperti menenggak obat tidur dosis sedang.

Bangun kelewat pagi. Saat tukang sayur berangkat, aku sudah terjaga. Dan menemukan kesulitan-kesulitan hanya sekedar untuk terlelap kembali paling tidak ketika adzan subuh berkumandang. Bangun menjerang air, menyeduh kopi dan menikmatinya supaya siangnya jadi ganteng seratus persen. Oke kamu boleh tidak percaya, tapi dunia sudah mengakuinya. Mengakui bahwa aku ngarang.

Demikianlah, pengetikan postingan ini diinterupsi oleh anakku yang tiba-tiba mengajakku untuk main ke danau di seberang kampung. Membuat sedikit kesenangan dengan mengebut di sempadan danau. Anakku jadi navigator yang cuma bisa teriak, “Awas yah, lubang!”, “Awas yah, tai kebo!” mencari buah kersen liar, kemudian berhenti menonton kerbau berenang. Seperti banteng Afrika bermigrasi mencari rumput tetangga yang lebih hijau. Merindukan hujan yang tak kunjung datang.

Sabtu, Maret 08, 2014

cita cita cita cita

Baiklah, gw mau cerita tentang cita-cita. Semua gegara temen gw yang memfoto uban gw. Gw akui bahwa alam telah memberitahu dengan sangat sopan ketuaan gw. Melalui kehadiran uban gw yang diam-diam.

Sudah beberapa minggu ini adegan purba kek mamalia mencari kutu yang dilakukan istri gw terhadap uban gw, absen. Biasanya dengan terpaksa istri gw mencabut uban gw yang malu-malu nongol. Istri gw lebih suka gw ubanan. Sedangkan aura kegenitan gw bilang, belum waktunya gw ubanan. Tapi keknya alam lebih jujur. Usia gak bisa bohong kek lidah.

Mau ngomongin cita-cita kok malah ngomongin uban? Oke itu hanya prolog. Gw mau ngajak kalian mundur menengok masa kecil gw. Gak penting sih, cuma gak penting ajah. Huaah! Cekdisout !

Dokter forensik
Sewaktu kecil, gw suka banget ngubur binatang mati kek ayam, kucing, ikan, dan kodok. Gw bacain do’a, taburin bunga, pasangin nisan, trus pake adegan sedih-sedih gitu. Beberapa hari kemudian gw gali lagi kuburan itu untuk melihat proses pembusukan. Organ mana yang lebih dulu membusuk itulah yang gw simpulkan sebagai sebab kematiannya. Harusnya gw sekarang jadi ahli forensik kek almarhum pak Mun’im Idris, tapi sekarang gw mual-mual kalau lihat bangkai busuk.

Dokter
Gw dulu suka geregetan lihat temen yang punya kutil atau bintil-bintil nanah. Kutil gw gunting, nanah gw tusuk pakai duri pohon jeruk. Gw bersihin. Harusnya kan gw jadi dokter kandungan. Eh bukan, bayangan pengen jadi dokter kandungan muncul selepas masa puber. Karena semasa kecil gak ada referensi sedikitpun tentang profesi laki-laki yang paling yahud sejagad itu kek dokter Boyke. Tapi keknya gw gak berbakat jadi dokter. Padahal tulisan gw jelek banget.

Seniman dan orator
Dari kecil gw hobi gambar pakek arang sisa kayu bakar. Gambar di dinding lumbung, di dinding kamar, kek manusia cro magnon. Gw juga suka seolah-olah ngomong di mimbar, pake meja makan yang di berdirikan, pakek semprong peniup api. Pas SMA suka puisi, suka ngarang. Gw jago ngarang. Jawab ujianpun gw ngarang.

Penyanyi
Gw gak bisa nyanyi sejak kecil. Suwara gw serak. Napas pendek-pendek. Gw suka musikpun setelah SMP-SMA gitu. Pertama suka lagunya bang Rhoma, terus bang Iwan Fals. Pokoknya gw gak bisa nyanyi. Kalau Afghan nyanyi bikin cewek-cewek hatinya meleleh, kalau gw nyanyi, bikin orang menguap terus tidur. Oke, paling tidak hukum fisika di sini berlaku.

Arsitek
Oke, bagian ini gak usah gw ceritain. Gw dulu suka bikin rumah-rumahan, tapi setelah jadi gw ancurin atau gw bakar.

Tentara
Gw sebenernya rada anti sama yang namanya army-army gitu. Gw  gak suka atribut-atribut tentara. Baju doreng apalagi. Gw alergi gitu. Paling-paling gw suka sama senjata dan botol minumnya tok. Sama tentara-tentara resmi gw juga gak begitu suka. Gw lebih suka tentara-tentara pemberontak, gerilyawan atau para rebel.

Logo & simbol
Gw suka banget sama simbol, logo, dan ikon. Gw suka bulan bintang, palu arit, swastika, salib, bintang Daud, logo volkswagen, Mercy, honda, iluminati , dagadu atau logo toko material, counter hape, bank mandiri, tipiwan, escetepe, atau gemokred, geng motor kreditan. Ada yang dianggap suci, dilarang, asik juga lucu. Gw sih asik-asik aja, wong semua itu ciptaan manusia. Seumur-umur, gw cuma terganggu sama logonya monster energi. Gak tahu kenapa gw merasa gak nyaman kalo lihat logo itu.

Pokoknya gitu, sekian, kita kembali ke setudio

Senin, Februari 24, 2014

Salam Tempur

Malam semakin larut, kek gula diaduk. Di luar masih gerimis, kodok ramai bernyanyi. Mungkin gegara malaikat penjaga hujan sengaja membiarkan semprotan hujan terus terbuka sepanjang hari. Rasanya gw pengen keluar menghampiri para kodok itu terus bilang gini : “aku sih yes, gak tahu kalo mas anang”. Tapi gw urungin, karena gw bener-bener kangen suara kodok bernyanyi.

Jam sudah menunjukan pukul sebelas lewat untuk wilayah Tangerang dan komputer dan henpon. Istri gw sudah tidur. Di seberang sana, di rumah tetangga, masih terdengar lagu-lagu dangdut koplo heboh. Diacara hajatan pernikahan anaknya yang sudah waktunya menikah.

Gw tadi terjebak di sana. Di acara dangdut koplo itu. Di acara penuh berkah yang hiburannya gw rasa jauh dari berkah. Menyanyikan lagu oplosan dengan penampilan yang sungguh menghianati ibu bidan. Segitiga yang melindungi perkakas paling privat dan rahasia, yang cuma boleh dilihat suaminya dan ibu bidan itu, sengaja diperlihatkan untuk khalayak. Gak ada stocking, gak ada legging, hanya segitiga itu. Padahal banyak mata di sana. Ada tipe bapak-bapak labil kek gw, ada abege labil yang baru akil baligh, yang produksi kelenjar getah testoteronnya mengalami surplus. Ada juga bapak-bapak manula labil yang punya masalah dengan prostatnya. Gw rasa mata-mata itu rata-rata tertuju ke sana. Ke arah segitiga itu. Kecuali mata gw. Cateut!

Gw mengetik postingan ini ditemani lagu-lagu blues yang gw donlot dari yutub dan kopi yang tinggal setengah. Sesiangan tadi, hujan mengguyur Tangerang dengan mesra. Berangkat kerja diwarnai insiden sepeda motor mogok gegara melewati komplek perumahan dengan drainase yang buruk.

Eh iya gw lupa, gw pengen cerita kalo gw baru saja menyimak pengajiannya Emha Ainun Nadjib dari yutub. Banyak seh yang beliau sampaikan. Tapi yang pengen gw ceritakan ke kalian adalah tentang peran kita di dunia ini. Menurutnya, banyak orang terjebak dalam kotak-kotak fakultatif. Ada yang bangga kalo jadi penulis, jadi insinyur, jadi dokter, jadi ustadz, jadi kyai, jadi presiden dan macem-macem.  Penyanyi dangdut juga. Pemulung juga. FYI, gw ngefans sama Cak Nun ini sejak gw SMA. Gegara beliau gw punya cita-cita pengen jadi seniman. Tapi sejak Negara api menyerang, gw jadi seniman obong, maksud gw hanuman.

Iya juga seh, terkadang ada yang kebanggannya naik beberapa level di atas normal cuma karena pake seragam. Terus seragamnya ada tulisan ‘crew’ , ‘security’ , atau ‘community’.

Gw kalo mau bangga juga bisa. Gw pernah jadi penulis, penulis status. Pernah bikin buku berbakat best seller tapi gak gw jual, buku tulis. Pernah jadi konsultan, ‘kongkonane wong kesulitan’, ada orang kesulitan bawa triplek, gw bantuin. Pernah jadi pengamat, pengamat ibu-ibu aerobik.

Gak penting kita jadi apa, kata beliau, kita hanya perlu sungguh-sungguh menjalani apapun saja peran kita  di dunia ini sehingga barokah yang kita dapat. Pokoke ‘ojo dumeh’.

Malam sudah larut, kek gula diaduk (ups, diatas sudah diketik) kodok masih ramai bernyanyi, mas anang sudah tidur, lagu blues sudah habis, kopi sudah habis, dan  gw cuma mau cerita itu. Waktunya tidur untuk wilayah Tangerang dan sekitarnya, salam escetepeh!

Sabtu, Januari 25, 2014

Januwari dua ribu empat belas, empat ribu dua lapan

Gw selalu kesulitan untuk membangun kata-kata ketika mulai menulis. Kalah sama Bandung Bondowoso. Bandung Bondowoso mampu membangun seribu candi dalam waktu satu malam, guwe cuma bisa bangun malam-malam lantaran kebanyakan ngopi. Gak ngerti Bandung Bondowoso? Coba gugling deh.

Postingan kali ini gw rada-rada geli gituh. Gw bingung mau pake kata ganti apa pas nulis curhatan kek gini. Pakai ‘aku-kamu’ katanya kek orang pacaran. Pakai ‘saya’ malah kek presiden pas curhat. Pakai ‘guweh’ malah jadi laper. Mmmm.. itu kuweh bos.  Ok kita sepakat pakai ‘gw’.Eh ‘gw’ malah kek inisialnya Gita Wirjawan.

Bulan Januari gini, biasanya sisi romantis gw muncul dengan  manisnya. Langit mendung, hujan turun sepanjang hari, dan gerimis adalah elemen seksi yang gak semua orang mampu menangkapnya. Cuma gw. Ya, cuma gw. Kalau orang lain hujan turun bilang gini ; yah..hujan, gw bilang ; yes, hujan!

Situasi kek di atas, gak ada cara menyikapi dengan lebih baik selain libur. Di luar negeri kan ada libur musim panas, seharusnya di Indonesia ada libur musim hujan, libur musim duren, libur musim rambutan, libur musim layangan, kan keren tuh. Jadi pas turun hujan pagi hari, otomatis sekolah dan kantor diliburkan.

Ngomongin libur, bulan ini cuma ada jatah tambahan libur dua hari. Yang jatah satu hari, sudah diambil lembur.Tinggal satu. Itu membuktikan betapa gw mata duitan.

Sebagai bapak-bapak labil, sudah semestinya gw rajin ‘menjemput rezeki’. Itu bahasa keren dari kata-kata ‘bekerja keras’. Walaupun gw tahu, bekerja keras gak selalu berbanding lurus dengan banyaknya rezeki yang kita dapat, paling tidak gw sudah mempraktekan nasihat nenek moyang yang sudah dianut sejak Gajah Mada masih kuliah di Jogja. Kerja mah apa saja yang penting capek.

Sebenernya sih kerja gw gak capek-capek amat. Gw senang  menjalaninya. Karena  bagi gw pekerjaan gw itu bermain, dan hobi gw bekerja. Apa? Libur? Libur itu bagi gw hobi juga. Hobi gw kan banyak. Daftar hobi gw ; bekerja, libur, membaca, menulis, berhitung, bersepeda dan bercinta.
Gw bersepeda juga gak sering-sering amat. Paling cuma hari Jum’at. Sekalian di pabrik ada senam. Tapi belakangan senamnya jadi rada-rada kurang seru. Banyak jogetnya. Ya oplosanlah, ya cabe-cabeanlah, gw gak ngerti. Sedangkan gw terlalu lelet untuk cepat menghafal gerakan-gerakan kek gitu. Kalau kamu cowok dan otak kamu cepat hafal gerakan-gerakan senam, gw saranin mending bikin boiben ajah. Suara nomor sekian, yang penting mas Dani yes, gak tahu kalo mbak Titi sama mas Anang. Pokoknyamah sepeda itu Bike to Work, baik buat kerja.

Gw juga suka banget nonton film. Yah semenjak transtipi dan globaltivi terinvasi acara gajebo, eh globaltipi belum ding, tapi sekalinya ada, pasti filmnya Steven  Seagal melulu, gw jarang nonton. Paling buffering di yutub yang tanpa subtitle. Gw paham jalan ceritanya hanya dari gestur, mimik dan ekspresi pemainnya. Bahasa Inggris gw kan cuma dapet 6. Atau kalo gak donlot.

Nah sekarang, hampir setiap Sabtu siang, di pabrik ada acara nonton bareng gituh. Dan kadang nafsu nonton itu kebawa juga sampe rumah. Pas nyalain komputer, terus mulai muter film, istri gw reseh.

‘Daripada nonton film, mendingan belajar’ kata istri gw. Ih, gw berasa jadi anak SD ya. Tapi pas gw bawain serial anime Hunter X Hunter segede 4 giga lebih, istri gw abisin dalam dua hari. Dulu pernah gw bawain serial Korea gituh, eh nontonnya pake air mata segala. Sedangakan gw pake melotot mata segala. Mantengin indahnya ciptaan Tuhan yang konon katanya udah dioprek-oprek itu.

Sejauh ini film yang bikin gw sesenggukan itu baru 3 Idiots, Taree Zamen sama Pursuit of Happiness.
Tapi sudahlah, Januari penuh hujan, dan gw masih penuh cinta.

Sabtu, September 07, 2013

Wawancara imajiner dengan Pak Kapolri tapi gak jadi, akhirnya wawancara motor

Sebenarnya saya berencana mewawancarai Pak Kapolri alias Kepala Kepolisian Republik of India,tapi beliau sibuk main film india. Terus rencana pengen wawancara Pak Harto mengenai ungkapan “Piye le, penak jamanku to? Tapi ternyata cuma hoax. Sebab yang bilang itu Cuma sopir truk. Ada rencana juga wawancara imajiner sama Anggun C Sasmi, tapi nanti malah imajinasi saya yang kemana-mana.

Daripada gak ada wawancara, saya wawancara saja sepeda motor saya. Siapa tahu  dia jujur menjawab pertanyaan-pertanyaan saya.
Jadi ceritanya begini, tetiba istri saya beliin saya sepeda motor. Sebuah sepeda motor masa lalu. Pokoknya sepeda motor itu dibikin waktu jaman fesbuk ,twiter, wasap dan instagram sama bebe alias blekberi belum ada, tapi gugel sudah ada.
Sepeda motor tua itu garang di trek lurus, stabil ditanjakan, tapi cerwet di jalan jelek. Persis ibu-ibu. Spion masih lengkap, lampu sein cuma nampang, klakson gagu, bodi minimalis,plat nomor tinggal satu, pajak lupa dibayar sejak Gayus masih jujur. Bensin irit, maklum keluaran pabrikan ‘H’.
Eh iya, sepeda motor itu saya kasih nama Mandung. Mandung itu sejenis kucing badboy gitu. Tua-tua bandel. Tadinya mau saya kasih nama Blacan Tempur, tapi gak jadi. Sebab saya males kasih nama itu. Walaupun namanya Mandung, tapi panggilanya Migu. Nama panjangnya Migunani Tumpraping Liyan. Bingung ya? Pokoknya mah namanya Mandung panggilannya Migu, gitu. Mandung punya sontrek juga lho, judulnya Halo-halo Mandung.

Wawancara dilakukan di belakang rumah mertua saya, yakni orangtuanya istri saya. Dibawah pohon rambutan di deket kandang sapi. Saya sambil ngopi. Migu diem. Angin sepoy-sepoy menghembuskan aroma tai sapi yang khas. Cekidot beibeh:

Saya : Hai migu, apa kabar?

Migu: Baik bos!

(hening)

Saya : kamu mau gak saya wawancara?

Migu : Bos, wawancara itu apa?

Saya : ya gini, saya tanya kamu jawab.

Migu : siap bos!

Saya : Pokoknya disini kamu pura-pura pinter. Jawabnya pakek bahasa yang tinggi-tinggi ya, biar saya keliahatan pinter gitu. Mulai dari sekarang! Apa pendapat kamu mengenai  cinta.

Migu : Cinta itu sebuah relativitas. Sepenggal puisi dari penyair mabok. Sepotong kata yang diobral murah, yang bikin gadis-gadis rela diacak-acak segitu mudahnya hanya dengan kata sandi ‘aku cinta padamu’

Saya : Cieee, saya demen nih jawabannya, terus selain itu menurut kamu cinta itu sesungguhnya apa sih?

Migu : Seperti kata Khalil Gibran, cinta itu buah kecocokan jiwa. Tanpa kecocokan jiwa, cinta gak akan lahir bos. Gak akan tumbuh dan bertahan sepanjang usia.

Saya : Okeh, lha terus gimana dengan kata cinta yang diucapkan anak muda jaman sekarang?

Migu : saya menyebutnya alay overdosis bos. Mereka kan gini bos, ketemu di fesbuk, dijalanan, trus naksir, baru naksir sudah ngomong cinta, terus pacaran, posesif, ngambek, berantem, manggil nya ayah-bunda, papi-mami, abi-umi, padahal jajan masih minta, padahal masih ngabisin beras ibunya. Kalau bukan motor pasti saya sudah muntah bos.

Saya : menurut kamu, ini fenomena apa?

Migu : Ini fenomena latah level sepuluh bos. Ketika temennya punya bebe, pengen bebe, temennya punya aiped, pengen aiped. Temennya punya pacar, pengen pacar. Temenya punya motor, pengen motor. Temennya punya motor di modif, pengen punya motor di modif juga, temennya nongkrong di Sevel pengen nongkrong juga, temenya merokok, pengen merokok juga.

Saya : kembali ke cinta…

Migu : Ah, si bos nanyanya cinta melulu.

Saya : kalo….. cemburu itu apa?

Migu : cemburu itu ketidakdewasaan yang dikamuflase.

Saya : kalau kamu jadi manusia, eh beidewei kamu mau jadi laki-laki apa perempuan sih?

Migu : iih, kan sudah disebutin kalo saya badboy

Saya : eh iya,kalo jadi laki-laki mau cemburu gak?

Migu : ya gak lah, cemburu itu menyakitkan. Mendingan saya pupuk rasa percaya setinggi-tingginya bahwa Allah akan menjaga istri kita dari segala godaan. Dan menguatkan saya untuk gak mudah tergoda. Gitu aja saya mah.

Saya : sekarang saya Tanya soal seks….

Migu : iiiihhhh… si bos, atuh sayanya malu

Saya : sejak kapan sih motor punya malu?

Migu : Seks itu artinya kelamin, eh maksud saya definisi seks itu ; ekstase bersama yang sifatnya spiritual. Suci bos, suci. Gak bisa sembarangan diobral gitu ajah.

Saya : trus kalo seks pra nikah?

Migu : yeee sibos, kek gak tahu aja, dilarang bos, dilarang. Semua yang bos tanya, halal bos, kuncinya halal. Kalo halal, apa aja boleh, cinta,cemburu, seks.

Saya : eh iya, makacih ya migu…

Migu : sip bos.

Wawancara berakhir, salam escetepeh